Kumpulan Cerita Dewasa - Waktu
itu aku harus mengambil sebuah mata kuliah umum yang belum kuambil, yaitu
kewiraan. Kebetulan waktu itu aku kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak
jauh dari gedung fakultasku, di sana mahasiswanya mayoritas cowok pribumi,
ceweknya cuma enam orang termasuk aku.
Tak heran aku sering menjadi pusat perhatian cowok-cowok di
sana, beberapa bahkan sering curi-curi pandang mengintip tubuhku kalau aku
sedang memakai pakaian yang menggoda, aku sih sudah terbiasa dengan
tatapan-tatapan liar seperti ini, terlebih lagi aku juga cenderung
eksibisionis, jadi aku sih cuek-cuek aja.
Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan
karena dosennya beberapa kali tidak masuk akibat sibuk dengan kuliah S3-nya.
Kuliah diadakan pada jam lima sore. Seperti biasa kalau kuliah tambahan pada
jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun
bagaimanapun saat itu langit sudah gelap hingga di kampus hampir tidak ada lagi
mahasiswa yang nongkrong.
Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya berjarak
empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih
sendirian di WC kampus malam-malam begini, tapi aku segera menepis segala
bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift
(di tingkat lima).
Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari
belakang. Ternyata mereka adalah tiga orang mahasiswa yang juga sekelas
denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk di
sebelahku dan mengobrol sewaktu kuliah, namanya Roy, tubuhnya kurus tinggi dan
berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar.
Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu
tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Rendy
dan satunya lagi yang mukanya mirip Arab itu namanya Denny, tubuhnya lebih
berisi dan kekar dibandingkan Roy dan Rendy yang lebih mirip pemakai narkoba. Agen Bandarq
“Kok baru turun sekarang Ci?” sapa Roy berbasa-basi.
“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?” jawabku.
“Biasalah, ngerokok dulu bentar” jawabnya.
“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?” jawabku.
“Biasalah, ngerokok dulu bentar” jawabnya.
Lift terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri
mengelilingiku seperti mengepungku hingga jantungku jadi deg-degan merasakan
mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun
yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan.
Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan
kecil dan dengan dikelilingi para pria seperti ini hingga rasa panas mulai
menjalari tubuhku.
“Langsung pulang Ci?” tanya Rendy yang berdiri di sebelah
kiriku.
“Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala.
“Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?” si Roy menimpali.
“Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi.
“Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!” sahut Rendy.
“Eh.. Buat apa?” tanyaku lagi.
“Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala.
“Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?” si Roy menimpali.
“Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi.
“Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!” sahut Rendy.
“Eh.. Buat apa?” tanyaku lagi.
Sebelum ada jawaban, aku telah dikagetkan oleh sepasang tangan
yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diberi aba-aba, Denny yang
berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang
menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku sampai terlepas dari tanganku
karena terkejut.
“Heh.. Ngapain lu orang?” ujarku panik dengan sedikit rontaan.
“Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!” ucap Roy yang mendekapku dengan nafas menderu.
“Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Denny.
“Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!” ucap Roy yang mendekapku dengan nafas menderu.
“Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Denny.
Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk ke dalam rok miniku. Aku
tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai
menggosok-gosoknya dari luar.
“Eengghh.. Kurang ajar!” ujarku lemah. Aku sendiri sebenarnya
menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan
derajatku di depan mereka.
Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang telah
terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Roy menciumi leher, telinga dan
tengkukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat.
Denny yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai
menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah
payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra.
Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemudian
kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku.
Sambil menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa
kusadari, celana dalamku kini telah merosot hingga ke lutut, pantat dan
kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Rendy sudah memasuki vaginaku dan
menggelitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya
menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu.
Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku
merapat mengapit tangan Rendy. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang
sedang dijilati Roy, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding.
Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi.
Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang
dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya hingga menyebabkan benda itu
semakin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka
menjarah tubuhku.
Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Denny
memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya
masuk ke mulutku dan menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan
lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya
sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan
keras di balik celana Roy terasa menekan pantatku. Secara refleks aku
menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih
terbungkus celana itu.
Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Denny jadi basah dan
meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Roy, dia kelihatan senang
sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu
dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan.
Si Rendy malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya
yang sudah tegang. Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan
miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya
sesuailah dengan badannya yang kerempeng itu.
Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Roy ke
penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak
cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku. Bandar Poker Online
“Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!”
pintanya.
“Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Denny melepas cumbuannya.
“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Denny sambil membuka celananya.
“Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Denny melepas cumbuannya.
“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Denny sambil membuka celananya.
Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya
bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Rendy tapi yang ini
lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm
tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya,
berani taruhan punya si Roy juga pasti kalah darinya.
Roy melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Denny
menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang
sudah lemas, kedua penis tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku,
tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Roy juga sudah mengeluarkan
miliknya.
Benar kan, milik Denny memang paling besar di antara ketiganya,
disusul Roy yang lebih berisi daripada Rendy. Mereka bertiga berdiri
mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.
“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis”
“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!”
“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!”
“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!”
“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!”
Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis
dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah,
hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan.
“Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian.. Kalo gini
terus gua juga bingung dong!” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari
mukaku.
“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Rika yang milih aja, demokratis kan?” kata Rendy.
“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Rika yang milih aja, demokratis kan?” kata Rendy.
Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Rendy dan
yang kanan meraih milik Denny lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut.
“Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!” gerutu Rendy
pada Denny yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan.
“Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Roy protes karena merasa diabaikan olehku.
“Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Roy protes karena merasa diabaikan olehku.
Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku
untuk menuntun penis Denny ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku
meraih penis Roy untuk menenangkannya. Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua
dengan tangan, satu dengan mulut.
Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Roy dan Denny kini
menerima tanganku. Tak lama kemudian, Rendy yang ingin mendapat kenikmatan
lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku.
Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu
terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki
ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan
vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar.
Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.
Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang
vaginaku. Penis Rendy telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan
semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku
sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.
“Uhh.. Nakal yah lu!” kataku sambil menengok ke belakang.
“Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Rendy mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.
“Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Rendy mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.
Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot
tubuhku, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal.
Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku.
“Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Roy seraya
menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku.
Aku semakin bersemangat mengoral penis Roy sambil menikmati
sodokan-sodokan Rendy, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati
‘helm’nya. Jurusku ini membuat Roy blingsatan tak karuan sampai dia
menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya.
Kocokanku terhadap Denny juga semakin dahsyat hingga desahan
ketiga pria ini memenuhi ruangan lift. Teknik oralku dengan cepat mengirim Roy
ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan
meremas rambutku..
“Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!”
Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati
dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru
menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih
menjilati sisa sperma pada batangnya. Denny memintaku agar menurunkan frekuensi
kocokanku.
“Gak usah buru-buru..” demikian katanya.
“Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih!” kata Denny pada Rendy.
“Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!” jawab Rendy dengan terengah-engah.
“Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih!” kata Denny pada Rendy.
“Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!” jawab Rendy dengan terengah-engah.
Genjotan Rendy semakin kencang, nafasnya pun semakin memburu
menandakan bahwa dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar bisa
keluar bersama. Bandar Poker Terpercaya
“Uhh.. Uhh.. Udah mau Ci, boleh di dalam gak?” tanyanya.
“Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!” desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.
“Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya!” tegur Roy.
“Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!” desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.
“Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya!” tegur Roy.
Rendy menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas
kencang payudaraku hingga membuatku merintih, kemudian dia mencabut penisnya
dan menumpahkan isinya ke punggungku.
“Ok, next please” Rendy mempersilakan giliran berikut.
Roy langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri.
Disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku dengan
lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami ber-french kiss
dengan panasnya.
Serangan Roy mulai turun ke payudaraku, tapi cuma dia kulum
sebentar, lalu dia turun lagi hingga berjongkok di depan vaginaku. Gesper dan
resleting rokku dia lucuti hingga rok itu merosot jatuh.
Dia menatap dan mengendusi vaginaku yang tertutup rambut lebat
itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku sambil mengangkat paha kiriku
ke bahunya. Jari-jarinya mengorek liang vaginaku hingga mengenai klitoris dan
G-spotku.
“Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!” desisku sambil meremas rambutnya
ketika lidahnya mulai menyentuh bibir vaginaku.
Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Roy pada vaginaku,
lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam vaginaku, daging kecil sensitifku
juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi dengan hisapan.
Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku terpejam
menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan pelan pada puting
kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Rendy sudah menempel di sana sedang
mengenyot payudaraku. Denny berdiri di sebelah kananku sambil meremas
payudaraku yang satunya.
“Ci, toked lu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih?”
tanyanya.
“Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!” jawabku sambil mendesah.
“Udah ada pacar lo Ci?” tanyanya lagi.
“Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!” jawabku sambil mendesah.
“Udah ada pacar lo Ci?” tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat
itu lidah Roy dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini ditambah
lagi dengan Denny yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher jenjangku dan
mengelusi pantatku. Sebelum sempat mencapai klimaks, Roy berhenti menjilat
vaginaku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua temannya menyingkir dulu.
“Minggir dulu jek.. Gua mo nyoblos nih! Walah.. Nih toked jadi
bau jigong lu gini Ful!” omelnya pada Rendy yang hanya ditanggapi dengan
seringainya yang mirip kuda nyengir.
Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan
kepala penisnya pada bibir vaginaku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan.
“Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!” desahku dengan memeluk erat tubuhnya
saat dia melakukan penetrasi.
“Aakkhh.. Yahud banget memek lu Ci.. Seret-seret basah!”
“Aakkhh.. Yahud banget memek lu Ci.. Seret-seret basah!”
Kemudian Roy mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit
dilukiskan. Penis kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai tubuhku
terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi dinding lift di
belakangku. Eranganku kadang teredam oleh lumatan bibirnya terhadapku.
Senjatanya keluar-masuk berkali-kali hingga membuat mataku
merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun ikut maju mundur
merespons serangannya. Saat itu kedua temannya hanya menonton sambil memegangi
senjata masing-masing, mereka juga menyoraki Roy yang sedang menggenjotku
seolah memberi semangat.
Sementara dia berpacu di antara kedua pahaku, aku mulai
merasakan klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku
terhadapnya juga semakin erat. Akhirnya keluarlah desahan panjang dari mulutku
bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak daripada
sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan bertambah kencang
dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa wajahku.
“Uuhh.. Uuh.. Ci.. Yeeahh.. Hampir!” geramnya di dekat wajahku.
Tubuhnya berkelojotan diiringi desahan panjang, kemudian
ditariknya penisnya lepas dari vaginaku dan menyemprotlah isinya di perutku.
Dia pun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra. Karena Roy
melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga terduduk
bagai tak bertulang, begitu pun dengannya yang bersandar di lift dengan nafas
ngos-ngosan.
Aku meminta Rendy mengambilkan tissue dari tasku, aku lalu
menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma pada perutku sambil menjilat
jari-jariku untuk mendapatkan ceceran sperma itu. Hingga kini pakaian yang
masih tersisa di tubuhku cuma sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas.
Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Denny
setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan
membentangkannya. Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah bulu-bulu
hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu.
“Ayo dong.. Pada liatin apa sih, malu ah!” kataku dengan
memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun sesungguhnya
aku malah menikmati menjadi objek seks mereka.
“Hehehe.. Malu apa mau nih!” ujar Rendy yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku.
“Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok memeknya masih OK?” tanya Denny sambil menatap liang itu lebih dekat.
“Enam belas, waktu SMA dulu” jawabku.
“Hehehe.. Malu apa mau nih!” ujar Rendy yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku.
“Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok memeknya masih OK?” tanya Denny sambil menatap liang itu lebih dekat.
“Enam belas, waktu SMA dulu” jawabku.
Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga
akhirnya aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh
tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku.
Denny menarikku sedikit ke depan mendekatkan penisnya pada
vaginaku lalu mengarahkan benda itu pada sasarannya. Uuh.. Vaginaku benar-benar
terasa sesak dan penuh dijejali oleh penisnya yang perkasa itu. Cairan vaginaku
melicinkan jalan masuk baginya.
“Aa.. aadduhh, pelan-pelan dong!” aku mendesah lirih sewaktu Denny
mendorong agak kasar. Sambil menggeram-geram, dia memasukkan penisnya sedikit
demi sedikit hingga terbenam seluruhnya dalam vaginaku.
“Eengghh.. Ketat abis, memek Cina emang sipp!” ceracaunya.
“Eengghh.. Ketat abis, memek Cina emang sipp!” ceracaunya.
Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo
permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Rendy sedang asyik
bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya yang ditindik,
tanganku menggenggam penisnya dan mengocoknya. Sebuah tangan meraih payudaraku
dan meremasnya lembut, ternyata si Roy yang berlutut di sebelahku.
“Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi!” pintanya dengan
menyodorkan penisnya ke mulutku saat mulut Rendy berpindah ke leherku.
Serta merta kuraih penis itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas
persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah beberapa
jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada
wajahnya akibat teknik oralku.
Tak lama kemudian, Rendy berkelojotan dan bergumam tak jelas,
sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku hingga
akhirnya cret.. cret.. Spermanya berhamburan mendarat di sekitar dada dan
perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu kental itu. Saat itu
aku masih menikmati sodokan Denny sambil mengulum penis Roy.
Kemudian Roy mengajak berganti posisi, aku dimintanya berposisi
doggy, Denny dari belakang kembali menusuk vaginaku dan dari depanku Roy
menjejalkan penisnya ke mulutku. Kulumanku membuat Roy berkelojotan sambil
meremas-remas rambutku sampai ikat rambutku terlepas dan terurailah rambutku
yang sebahu itu. Penis itu bergerak keluar-masuk semakin cepat karena vaginaku
juga sudah basah sekali.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian muncratlah sperma Roy
memenuhi mulutku, karena saat itu genjotan Denny bertambah ganas, hisapanku
sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir bibirku.
Setelah Roy melepas penisnya, aku bisa lebih fokus melayani Denny, aku ikut
menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam.
Bunyi ‘plok-plok-plok’ terdengar dari hentakan selangkangan Denny
dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat, sampai
beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan orgasmeku.
Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh fantastis kenikmatan
yang diberikan olehnya.
Kontraksi otot-otot kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa
nikmat juga karena otot-otot itu semakin menghimpit penisnya, hal ini menyebabkan
goyangannya semakin liar dan mempercepat orgasmenya. Dia mendengus-dengus
berkelojotan lalu tangannya menarik rambutku sambil mencabut penisnya.
“Aduh-duh, sakit.. Mau ngapain sih?” rintihku.
Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku
membuka mulut. Di depan wajahku dia kocok penisnya yang langsung menyemburkan
lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi mulutku.
“Gila, banyak amat sih, sampai basah gini gua!” kataku sambil
menjilati penisnya melakukan cleaning service.
Setelah menuntaskan hasrat, Denny melepaskanku dan mundur
terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya merosot turun
hingga terduduk lemas. Dengan sisa-sisa tenaga aku menyeret tubuhku ke tembok
lift agar bisa duduk bersandar.
Suasana di dalam lift jadi panas dan pengap setelah terjadi
pergulatan seru barusan. Aku mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil
menjilati sperma yang masih belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan
lendir hangat yang masih mengalir di selangkanganku.
Roy sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas,
dia mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Rendy sedang berjongkok sambil
menghisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang kemaluannya yang
mulai layu itu dapat terlihat olehku, Denny masih ngos-ngosan dan meminta Roy
membagi minumannya.
Setelah minum beberapa teguk, Denny menawarkan botol itu padaku
yang juga langsung kuraih dan kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada
tissue untuk melap wajahku yang belepotan.
Kami ngobrol-ngobrol ringan dan bertukar nomor HP sambil
memulihkan tenaga. Aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah
berpakaian lengkap dan mengucir kembali rambutku, kami bersiap-siap pulang.
Roy menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai
dasar sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Lega
rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kami pun
berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping dan aku ke
tempat parkir.
Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri sambil
mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih terngiang-ngiang di
kepalaku kegilaan yang baru saja terjadi di lift kampus.


